ARTI SEORANG TEMAN

Kota yang digunakan sebagai pusat pemerintahan memang selalu disibukkan oleh aktifitas penghuninya yang menghadapi rutinitas hidup dengan ragam alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin memaksa mereka untuk melangkahkan kaki menelusuri pojok-pojok kota. 

Kota itu sendiri disebut sebagai sebuah kota yang menawarkan segala hal bagi pemuja kemewahan dan juga dikenal juga sebagai neraka bagi mereka yang mencoba mendamba harapan. Sebab ketika peruntungan tak berpihak pada mereka, terpaksa mereka membaurkan diri menjadi debu-debu yang berserakan disudut-sudut kota. Hanya individu-individu yang memiliki sifat tangguh dalam menyingkirkan sainganyalah yang akan bertahan hingga akhirnya mampu berjaya. 

Salah satu dari beberapa individu itu adalah Rano. Ia dikenal sebagai eksekutif muda yang berbakat dan memiliki telenta yang tinggi. Kelebihannya yang mampu menganalisa dan memecahkan persoalan yang menurut orang lain mustahil untuk di pecahkan membuat sosoknya sering menjadi bahan perbincangan dan disegani lawan maupun kawan. 

"Ia juga merupakan sosok yang mengagumkan. Wibawa dalam perkataan yang keluarkan ketika bercakap dengannya membuat kita sejenak mengikuti alur pemikirannya. Kita dibuatnya terdiam dan untuk selanjutnya tak sanggup menimpali arah pembicaraannya.” 

Bandi mendengarkan omongan Jihan dengan krenyitan didahinya. 

Setahu dia walaupun pintar, Rano yang ia kenal dulu merupakan pribadi yang pendiam. Sebagai teman akrab ia hafal betul bagaimana sifat dan kebiasaan teman satu almamater yang kini baru ia dengar kabarnya dari Jihan, rekanan bisnisnya. Percakapan santai sehabis makan siang dengannya membuatnya tahu bahwa sekarang Rano bekerja di kota yang ia tempati. Bidang pekerjaan yang digeluti pun nyatanya tak jauh beda dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang menuntut sifat kepemimpinan tinggi serta membutuhkan rutinitas dan memang menyita waktunya. Tapi waktu yang tersita untuk pekerjaannya itu tidak mempengaruhi sisi hidupnya yang lain karena ia beranggapan bahwa masa lajangnya akan ia gunakan sepenuhnya untuk mengejar karir dan memenuhi mimpi-mimpinya yang belum terwujudkan. 

Berdasar informasi yang ia dapatkan dari Jihan, ia kemudian menghubungi Rano dan mengajaknya untuk bertemu di salah satu kafe yang terletak di pinggir kota. Sebuah bangunan permanen yang berada ditengah-tengah rimbunnya pepohonan Akasia yang selalu memamerkan hijau daunnya di ranting-rantingnya yang beranjak mengelupas. 

Dalam pandangan Bandi, perawakan Rano masih seperti dulu. Tubuhnya yang atletis dibalut dengan dandanannya yang senantiasa maskulin, masih melekat pada penampilannya. Hanya sekarang telah melekat cambang tipis di pipinya yang dulu licin. 

Mereka lalu menceritakan pengalaman selepas keluar kuliah. Rano yang dulunya terkenal sebagai mahasiswa yang berprestasi ternyata pernah bekerja sebagai buruh kasar di kawasan pelabuhan selama lima tahun sebelum akhirnya mampu mendirikan perusahaan kecil yang lama kelamaan berkembang dan memiliki anak cabang. 

Biasa lah... keadaan ekonomi orang tua yang sudah pensiunlah yang mengharuskanku untuk menopang kebutuhan sehari-hari mereka dan adik-adikku. Sebagai anak tertua dan memiliki pendidikan tertinggi, aku tak mau mengecewakan mereka. Ijasah yang telah aku dapatkan seolah tak memiliki arti di masa itu. Jadi aku mencoba untuk mencari modal sendiri untuk memulai usaha walaupun dengan resiko menjadi suruhan orang lain. Tapi setelah masa-masa itu terlewati, kau lihat keadaanku sekarang kan ...?” 

Keuletan kawannya sejak dulu memang membuat Bandi kagum. Sebab saat masa kuliahpun Rano selalu ingin tampil terdepan dan tak mau mengecewakan orang lain. 

Tapi yang membuatku heran, mengapa sekarang kau sangat terbuka. Padahal dulu kau hanya akan berbicara seperlunya saja, dan hanya akan menimpali pembicaraan orang lain jika itu kau anggap penting saja.” 

Ada saatnya manusia harus berubah. Ia harus pandai memakai topeng yang raut dan mimiknya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ia hadapi. Rumus itulah yang sekarang aku pakai. Sebuah pengalaman yang aku dapatkan ketika aku pernah dikecewakan oleh seseorang.” 

Ia akhirnya bercerita tentang kebahagiaan yang beranjak dan bergegas pergi setelah ia memiliki pekerjaan yang sangat di impikan dan diidamkan oleh kebanyakan orang. 

"Hanya waktulah yang akan menjawab semua kekecewaanku. Waktu pula yang ikut berperan membunuh kesepian dan semua mimpi yang pernah ku cipta dengan penuh makna serta kugantungkan pada orang tersebut sejak ia meninggalkanku dengan cibiran-cibirannya.” 

Bandi memandang ke luar. Pohon Akasia yang meranggas di halaman kafe berjatuhan melayang-layang terbawa angin yang bertiup dari barat. Laju angin membawanya ketitik gravitasi terendah dan tepat mendarat didepan kaca mobil kuning Rano. Sebuah mobil ber-cc besar keluaran terbaru tentunya. 

Sebenarnya ia tak begitu suka dan peduli mencampuri dan menggali kehidupan orang lain. Baginya rahasia orang lain merupakan bentuk kejiwaan yang menakutkan untuk disingkap. Ia takut untuk terbawa, mencoba memecahkan dan selanjutnya memberi sepenggal atau beberapa penggal nasihat yang kelak akan ikut menyeretnya memasuki lingkaran persoalan mereka. Tapi ia pun akhirnya terbawa alur perasaan sahabatnya tersebut. 

"Aku pernah menjadi pemuja segala keindahan. Keindahan yang senantiasa aku impikan dan ku kais dalam tiap temaramnya langkah hidupku. Tapi tatkala keindahan itu kukira sudah tertangkap dan tergenggam erat, aku tak bisa mempertahankannya. Ia terbang dan akhirnya lenyap tak berbekas, hingga aku malu untuk mengakui bahwa aku memang pecundang. Seorang manusia yang tak mampu lagi untuk mempertahankan keindahan yang telah lama di impikan.” 

Bandi memandang mata Rano. Sebentuk mata yang mulai di penuhi goresan keriput yang membekas. Selaksa memberikan gambaran tentang beratnya beban yang pernah ia tanggung. Walaupun sesekali terlihat kilatan dendam terpancar di sorotnya. 

"Pernahkah kau tak lagi menyukai dirimu dan semakin menganggap dirimu bukanlah manusia yang memiliki nyali...?. Sebab itulah yang kurasakan sekarang. Aku serasa menjadi seorang manusia yang akan selalu terkalahkan oleh gilasan takdir.” 

Bandi menggelengkan kepala. Jari-jemarinya memainkan gelas yang masih tersisa kopi didalamnya. Dari semua perkataan Rano, Bandi akhirnya bisa memperkirakan bahwa masalah yang menimpa sahabatnya itu menyangkut persoalan wanita. 

Siapakah kiranya sosok yang sanggup menolak dan mengkhianati kepercayaan seorang manusia sempurna sepertimu sobat...?. Hanya orang bodohlah yang menyia-nyiakan kesempatan untuk bersanding denganmu.” 

Anggri namanya. Usianya saat itu menginjak tahun keduapuluh. Ia melamar kerja ke perusahaanku setelah sebelumnya ia di berhentikan dengan hormat oleh perusahaan dimana tempat dulu ia bekerja. Perusahaan tempatnya bekerja ternyata tak mampu melawan krisis yang berkepanjangan. Para penanam modal yang masih takut untuk berinvestasi di negeri kita menjadikan produk mereka tak memiliki pangsa pasar lagi.” 

Selama tiga tahun wanita yang diberinya simpati itu bekerja padanya. Selama itu pula ia memendam perasaan dan menjadi sadar bahwa rasa yang ia pendam sudah tiba saatnya untuk diungkap. Tapi kekecewaanlah akhirnya yang ia dapat saat ia mengungkapkannya. Sosok yang dipujanya ternyata lebih memilih pasangan sejenis untuk dijadikan pendamping hidupnya. Anggri pernah berjanji untuk tidak pernah lagi memilih lawan jenis, karena ia beranggapan sangatlah sulit untuk menyatukan persepsi dan pendapat antar individu yang berlainan jenis. Kesamaan pandangan dan kemudahan untuk memahami perasaan malahan ia temukan pada jenisnya sendiri. 

Padahal aku sudah mencoba menjelaskan bahwa cinta sebenarnya menghargai perbedaan jika tumbuh dari perasaan yang murni. Ia akan melepaskan diri dari segala nafsu untuk mengekang dan memiliki. Ia juga akan senantiasa putih jika kita tak mencampurnya dengan warna hitam. Dan itulah yang akan dirasakan bila kita membuang segala ego yang menumpuk di benak dan pikiran kita.” 

Bandi yang asyik membunyikan gelas dengan sendok tertawa. 

Kiranya kau memang benar-benar sudah berubah Ren.., sosok yang aku kenal dulu sekarang memang pandai bermain lidah layaknya psikiater cinta. Sebetulnya pendapat seperti itu amat jarang aku dengar. Rata-rata mereka yang mengagungkan cinta akan berkorban untuk membuktikan rasa itu sendiri. Pasangan-pasangan yang kau lihat sekarang merupakan pasangan yang mempunyai pendapat yang kontras dengan pendapatmu. Mereka sanggup bahkan rela mengorbankan segala yang mereka miliki, walaupun itu nantinya merupakan hak pasangan yang akan mengikat mereka dalam ikatan yang syah.” 

Bandi menghentikan kalimatnya. Ia menghabiskan cairan kopi yang tersisa.

Budaya-budaya lain...yang entah aku sendiripun tak tahu istilahnya, telah begitu gampang ditiru oleh kita. Aku pikir Anggri pun sudah menerapkan budaya itu. Dengan gampangnya ia menyalahi kodrat dan tak memperdulikan dampak apa yang nanti ditimbulkannya dengan sikap seperti itu. Sebab aku masih yakin kau yang telah lama belajar pengetahuan pun merasa shock ketika dibenturkan dengan kenyataan tersebut. Maka aku memiliki pertanyaan padamu tentang masyarakat yang merasa tatanannya di ubah begitu saja.” 

Suasana di kafe itu memang membuat betah untuk berlama-lama. Ruangannya diciptakan dengan penataan yang artistik dan menunya yang variatif membuat pengunjungnya kian bertambah tiap harinya. 

Sudahlah... aku sudah terlalu bosan mendengar tetek bengek tentang moralitas. Sebuah kondisi yang aku belum pahami dan belum sepenuhnya kujalani. Yang aku butuhkan sekarang adalah sahabat yang dapat menghibur dan mengobati laraku.” 

Cahaya mentari mulai berubah warnanya. Lembayung merah yang menelan warna terang keemasan membias pada tembok kuning kafe itu. Para pengunjung mulai surut berdatangan, hanya beberapa meja yang masih terisi beberapa pasangan muda yang sedang menghilangkan penat. 

Dua sosok tubuh itupun akhirnya beranjak dari tempatnya berada. Mereka bergandengan tangan dan bersenda gurau menuju mobil kuning yang tepat diparkir dibawah pohon Akasia. Seiring warna lembayung yang berganti pekat, mobil merekapun akhirnya menghilang di tikungan jalan kota yang semakin memadat. 

±±±±




Tentang Penulis:

Karya       : Nala Yanita
Jenis Karya : Cerpen
Web/Blog    : Informasi SEO

No comments :