IKAN-IKAN WARISAN
Hi Sa Nak
23:24:00
*Buat ikan kecilku yang tak bisa lagi bercakap.
Seorang pemilik empang yang sebagian rambut-rambutnya mulai beruban melemparkan pandangnya pada kucuran air yang mengaliri empang kesayangannya. Ia berharap hari itu ikan-ikannya bersedia untuk menampakkan kerlap kerlip sisiknya saat mentari sedang menunjukan kekuasaan panasnya.
Ia berpendapat bahwa ikan merupakan makhluk yang selalu memberikan kesegaran untuk mengobati masalah yang selama ini membuatnya cukup mengerutkan kening ketika dibenturkan pada lilitan persoalan hidup. Hanya dengan memandang dan mengelus-elus kulit mereka yang bagi sebagian orang dianggap amis dan menjijikan, ia mampu menemukan takaran apa yang bisa diambil untuk memecahkan setiap persoalan.
Dan yang pasti kegunaan dan manfaat paling besar juga bahwa ikan tersebut mampu memberikan nafkah, menyekolahkan anaknya keluar negeri dan mengisi rumahnya dengan perabotan mewah serta mampu memberinya kepuasan penuh untuk bepergian dan duduk di belakang supir BMW kuningnya.
Lelaki itu menyeringaikan senyuman kecil. Dengan tangan kanannya ia menaburkan makanan kesukaan peliharaannya. Cacing-cacing yang baru ia gali dari gundukan tanah di perkebunan pisang ditebarkannya kedalam empang tersebut.
Kekayaan yang ia dapat itu semua sebenarnya tak lepas dari jasa tetangganya. Seorang lelaki renta bijak dan berilmu yang pernah memberikan jalan untuk melangkah maju menatap masa depan. Ia mewariskan peninggalan yang menjadikan ia mampu memiliki semua mimpi yang pernah ia impikan.
****
Sebuah sungai kecil berada tepat di sebelah rumah orang tua Ranggas. Lekukan-lekukan bebatuan besar hitam yang menonjol di lajur arus air yang mengalir pelan merupakan tempat yang selalu dikunjungi Ranggas untuk memandang busa-busa air yang memercik membasahi kakinya. Disana dia menghabiskan banyak waktu luangnya untuk memandang laju air yang tenang dan mempesonakan sebagai obat penenang untuk jiwanya.
Pengamatannya terhadap tingkah laku alam tersebut juga akhirnya membawanya untuk meniru sifat air tersebut. Walaupun tenang dan terlihat mempesonakan, air tetaplah akan, menjadi dan bersifat layaknya air. Ia bisa menghanyutkan, akan senantiasa mengalir dan apabila waktunya bercampur seribu kotoran yang di temuinya dalam perjalanan ke muara yang lebih luaspun, ia dapat menyucikan diri kembali serta menyatu dan menjadi anugrah bagi makhluk hidup tatkala diturunkan dalam bentuk hujan.
Kebiasaan Ranggas yang suka berlama-lama duduk di batuan kali pula yang kemudian merubah jalan hidupnya. Di suatu siang yang penuh dengan naungan awan hitam, ia bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki yang memperkenalkan diri dengan nama Cokroningrat menyuruh Ranggas untuk mengikutinya menuju huma diatas bukit
“Kau tak perlu terkejut dan kaget mendengar ajakanku. Ada begitu banyak alasan yang memaksaku untuk mengajakmu, anak muda perkasa.”
Ranggas memang terkenal di daerahnya sebagai anak muda yang memiliki perawakan diatas rata-rata. Lengannya yang kokoh menopang bahu dan dadanya yang bidang, sangat menunjang tubuh tinggi besarnya. Hanya kulit legamnyalah yang menjadikannya sama seperti penduduk setempat lainnya.
Cokroningrat menatap tajam sorot mata Ranggas. Dengan tatapan tersebut Ranggas menduga bahwa lelaki tua itu menyimpan begitu banyak ucapan yang ingin disampaikan.
“Apapun yang Mbah ingin katakan, Ranggas siap mendengarkan.”
Lelaki tua yang dikenalnya hanya berdasar kasak-kusuk para tetangganya memasukan tangannya ke saku kemeja batiknya. Ia merogoh secarik kertas bertuliskan huruf-huruf kuno. Ia menyerahkannya pada Ranggas.
“Aku tahu kau tak bisa membaca tulisan itu. Anak-anak muda sepertimu memang tak diajarkan lagi cara baca-tulis huruf kuno. Jadi aku coba untuk menjelaskan bahwa tulisan yang dibuat oleh buyutku itu menyebutkan tentang diperlukannya orang tersabar untuk mewarisi benih mereka yang telah lama aku simpan. Dan dari hasil pengamatanku syarat itulah yang kemudian kutemukan pada dirimu sebagai orang yang sanggup melaksanakan wasiat itu. Hal ini akan menjadi takdir yang tak bisa kau tolak.”
Ranggas yang tak mempercayai takdir sepenuhnya hanya membuang pandangnya. Keyakinan yang melekat dibenaknya yang masih memandang bahwa hanya orang bodohlah yang percaya dan meyakini takdir. Mereka yang mempercayainya adalah orang berpikiran sempit, memiliki mimpi-mimpi yang sepenuhnya digantungkan pada langit hampa serta mengatasnamakan dan menjunjung tinggi takdir itu sendiri hanya sebagai pelipur dikala mereka tak bisa mewujudkan mimpi yang mereka harapkan.
“Apa maksud Mbah?” Ranggas nyata-nyatanya masih bingung dengan pernyataan Cokroningrat.
“Di masa mudamu, aku tahu kau pasti begitu gamang untuk memandang masa depan. Hasil dari lamanya pendidikan yang kau tempuh sekarang amat sangat tak dihargai. Aku pun percaya bahwa ambisi yang sangat besar untuk meraih mimpi senantiasa berputar dan hanyalah menjadi mimpi buruk saat kau terjaga dari tidurmu. Untuk itulah aku mengajakmu untuk menerima tawaranku. Terimalah benih itu, sebab kelak ia akan mewujudkan semua mimpimu. Satu hal yang harus kau lakukan hanyalah menunggu. ”
Ia terkekeh sambil melebarkan mulutnya, giginya yang mulai usang dimakan usia meninggalkan noda kehitaman dimana-mana. Ia kemudian terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ranggas pernah mendengar dari orang-orang di desanya bahwa sosok yang tertawa itu merupakan orang yang memiliki dunia sendiri. Rumahnya yang terpisah agak jauh dari rumah penduduk lain menjadikannya jarang bercakap dengan orang lain. Atas dasar itulah penduduk sekitar menganggapnya sebagai seorang eksentrik .
Bahkan bukan kebetulan pula tatkala pada suatu senja di musim penghujan ia disuruh orang tuanya memetik pisang yang masak di kebun yang terletak diatas bukit, memergoki Cokroningrat berjalan dengan langkah kaki pincangnya. Pada saat disapa dan ditanya oleh Ranggas, sosok itu hanya berdehem tiga kali lalu pergi dengan bergegas.
Bayangannya sejenak di kejutkan oleh suara sengau Cokroningrat.
“Aku tahu nak, nuranimu mungkin masih meragukan dan menyangsikan tawaran yang Mbah ajukan. Tapi, Mbah yakinkan bahwa inilah jalan terbaik bagi masa depanmu. Kekhawatiran akan masa mendatang tak perlu kau pikirkan lagi.”
“Ada satu hal yang perlu kau ketahui pula, mereka menulis syarat itu bukan tanpa alasan. Kesabaran memang sangat dibutuhkan untuk mengembangbiakkan bibit itu. Karena tanpa kemampuan tersebut, kelak mustahil kiranya mereka menuruti apa yang pemilik mereka perintahkan.”
“Mereka siapa Mbah…???”
“Sudahlah, nanti kau juga akan tahu. Aku cukupkan obrolan kita sampai di sini. Kiranya aku harus pergi untuk memperbaiki atap rumbia rumahku yang semalam berterbangan tersapu hujan angin.”
Dengan tiga kali deheman ia meninggalkan Ranggas dengan sejuta tanda tanya yang masih memenuhi pikirannya. Bau amispun dengan begegas menusuk hidungnya.
****
Tujuh hari semenjak kedatangannya ke hunian Cokroningrat, ia pun mulai melaksanakan langkah-langkah yang Cokroningrat perintahkan. Ia mulai merawat dan memelihara bibit ikan dalam sebuah wadah khusus. Di telinganya percakapan yang terjadi di pilar-pilar kayu yang menopang keseluruhan bangunan Cokroningrat yang beratapkan rumbia selalu terngiang .
“Ingat-ingatlah nak, kau perlu memperlakukan bibit-bibit ikan-ikan ini dengan hati-hati. Jangan sampai kau menyakiti apalagi membunuhnya, karena bibit itu telah aku simpan sendiri selama lima tahun di sebuah tempat yang hanya bisa dihuni oleh ikan yang memiliki keturunan dan kecemerlangan sisik yang mengkilap. Mereka telah kuajari segala ilmu yang aku punya dan ternyata terserap dengan baik dan sempurna dengan otak mereka yang kecil. Menyakiti mereka sama saja dengan kau menyakitiku”
Saat itu ada keanehan yang Ranggas rasakan dari perkataan Cokroningrat. Ia hampir tak memahami sepenuhnya bahwa ada juga makhluk piaraan yang sedemikian dimanja oleh pemiliknya. Tapi pertanyaannya seolah dapat dengan mudah terbaca oleh lawan bicaranya.
“Kau jangan heran, aku sangat menjaga mereka karena bibit itu memiliki kelebihan-kelebihan yang kukira nanti kau akan kagum dan tercengang. Selain memiliki kemampuan hidup sampai berumur dua puluhan tahun, pada tahun kesepuluh, mereka akan mampu bercakap layaknya bangsa kita. Dan pada saat itu lah kau bisa memetik hasil dari apa yang kau tebar.”
“Apa maksud Mbah...?, apa dengan merawat mereka aku bisa langsung kaya raya?”
“Seperti yang pernah kusebutkan. Kegigihanmu menunggu dan bersabar selama lima tahunlah yang kelak akan membuktikan apakah kau sanggup memperoleh kekayaan atau tidak. Rasanya tak perlu kuperkirakan masa depanmu, sebab tak ada yang bisa meramalkan waktu menghentikannya apalagi mengulangnya kembali.”
Ranggas teringat perubahan nada bicara Cokroningrat. Suara sengaunya tiba makin terdengar berat.
“Aku pun titip pesan bila dalam waktu dekat ini ajalku tiba, aku ingin kau membaringkan jasadku dan menguburnya di kebun pisang orang tuamu. Cacing-cacing yang memamah tubuhku, nantinya akan begitu cepat berkembang biak dan menjadi makanan utama ikan yang kau pelihara. Itu pula yang akan menyambungkan kembali kedekatanku dengan mereka. Sebab sebenarnya aku masih belum mau berpisah dengan mereka.”
Ranggas mengerenyitkan dahinya dan mengecilkan kedua matanya yang bulu matanya bisa di hitung dengan jari. Ia bingung dengan kegamangan masih berputar melingkupi benaknya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul ingin terobos lewati urat syaraf dan menanyakannya pada Cokroningrat, tapi saat itu merupakan hal yang tabu ketika anak muda bertanya dan menyangkal atas apa-apa yang orang tua ucapkan. Maka ia pun akhirnya hanya bisa memendam semua pertanyaan-pertanyaannya. Dan memang kini tak ada lagi yang bisa disangkal.
Lima hari setelah percakapan terakhir mereka, para penduduk gempar dengan diketemukannya gundukan tanah merah di kebun pisang orang tua Ranggas yang ketika digali berisi jasad Cokroningrat yang telah dikerubuti cacing-cacing tanah.
Berkali-kali Ranggas melangkahkan kakinya mengitari wadah ikan yang terletak diatas meja dapur. Kebingungan yang utama baginya adalah tatkala ikan-ikan yang berada dalam ember besar itu terlihat masih terlalu dini untuk dilepaskan ke empang belakang rumahnya. Bentuk yang mungil dibalur sisik-sisik kecilnya menambah keyakinannya bahwa ikan tersebut dulunya memang dimanja oleh pemilik lamanya. Sempat ia berpikir bahwa mereka tidak akan mampu bertahan dilingkungan baru yang sepenuhnya hanya mengandalkan faktor alam dan cacing tanah sebagai pakan utamanya.
Tapi akhirnya iapun melakukan apa yang di perintahkan Cokroningrat. Ia membaurkan mereka di empang yang telah ganti airnya. Menaburkan cacing disekelilingnya dan melihat mereka menyebar dan menikmati lingkungan barunya. Dengan sorot mata yang takjub Ranggas terkesima, karena layaknya ikan lumba-lumba, ikan-ikan pemberian Cokroningrat itupun mampu melompat setinggi lompatan ikan laut tersebut .
****
Pada tahun kelimalah, perkataan dan janji Cokroningrat mulai terbukti. Pada pertengahan malam di awal bulan di tahun kelima, Ikan-ikan yang didalam empang mulai mengeluarkan suara-suara yang membuat air yang mengisi kolam bergolak dan berdebur. Suara riuh itu membuat Ranggas terjaga dari tidurnya. Dengan bergegas pergi kebelakang untuk melihat dan memastikan indra pendengarannya.
Akhirnya dengan penuh rasa penasaran ia coba untuk membuktikan kebenaran omongan Cokroningrat. Dengan menggunakan penangkap ikan, ia mengambil salah satu ikan yang tubuhnya sedikit lebih besar bila dibandingkan dengan ikan lainnya dan meletakannya di baskom.
“Kalaulah benar bahwa kau memang bisa bicara, bicaralah…., sebab aku sudah terlalu lama menunggu keajaiban dari jenismu yang oleh Mbah Cokro dijanjikan memiliki kelebihan-kelebihan.”
Tak berapa lama, ikan itu muncul ke permukaan air.
“Kecintaan kami pada makhluk lainlah yang menjadikan kami dapat bercakap dengan manusia. Ikan-ikan lain yang kalian makan dan lihat, pada dasarnya juga mampu berbicara. Cuma terkadang kotornya nurani serta jiwa kalianlah yang menghalangi pendengaran kalian atas segala keluh kesah dan ucapan-ucapan kami.”
Ia menjawab apa yang Ranggas tanyakan sambil mengibaskan siripnya.
“Tapi yang membuatku heran, mengapa sekarang kalian sanggup untuk berbicara langsung denganku, padahal aku merasa bahwa nurani ku sangatlah kerdil.”
Ranggas memandang lekat wadah yang telah diisinya dengan air bersih. Ia melemparkan pandangannya kembali pada seekor ikan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Paduan sisik yang berwarna kuning keemasan dan coklat muda menambah elok tubuhnya.
“Ada saatnya rahasia itu memang harus dibuka. Dan saat inilah aku ingin bercerita kepadamu bahwa kami memang diberi kelebihan untuk berbicara sekaligus didiik sebagai pendengar setia yang dapat memberi pemecahan bagi orang yang gamang dalam menyikapi hidup. Walaupun nantinya hal itu merupakan beban bagi kami, karena kaummu nyata-nyatanya hanya bisa berkeluh kesah dan minta didengarkan tanpa satupun yang mau menjadi pendengar sekaligus pemecah masalahnya. Tapi kami sadar bahwa itulah yang menjadi pangkal tanggung jawab kami, dan sebagai ikan terpilih kami tak mau mengecewakan Mbah Cokro. Dia lah yang merawat kami dan mengajarkan kami untuk hidup tanpa perlu memikirkan keinginan diri sendiri.”
Ikan itu memasukan tubuhnya dalam air dan ketika muncul ia kembali berujar,
“Kaummu sebenarnya ingin selalu berada dalam taraf kebaikan yang paling tinggi, akan tetapi keadaan dan tuntutan hidup memang terkadang menyesatkan dan memburamkan mata kalian untuk menyadari bahwa pada saatnya nanti bumi yang kalian pijak dan langit yang kalian junjung akan runtuh dan menimbun jasad kalian dalam dingin dan beceknya tanah .”
Ranggas tak habis pikir sampai begitu dalamnya analisa makhluk yang dulunya hanya ia anggap sebagai teman nasi dan penghuni tetap wilayah perairan. Tapi akhirnya ia disadarkan bahwa dalam dunia ini segala kemungkinan bisa saja terjadi. Sudut pandang yang ia gunakan untuk memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda memang sudah sepatutnya ia pakai. Sudut pandang yang baru ia peroleh pada saat usianya menginjak tahun kedua puluh.
****
Sudah berbulan lamanya Ranggas mempunyai pekerjaan baru. Ia memiliki julukan baru yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya sebagai saudagar ikan ajaib. Dan sebutan saudagar memang layak baginya karena ikan yang ia jual pada orang-orang kaya telah menghasilkan materi yang tidak sedikit.
Dengan sangat antusias orang yang memesan ikan peliharannya makin banyak. Tapi atas inisiatif Ranggas sendiri akhirnya diputuskan bahwa hanya orang-orang yang kekurangan materilah yang berhak membeli ikannya. Tak disebutkan alasan pasti ketika dia mengemukakan keputusannya.
“Tanyalah sendiri pada ikan-ikan yang berenang di sungai, laut dan empangmu. Bila nanti kau mampu bercakap dengan mereka, alasan yang sebenarnya pasti akan terucapkan lewat moncong mulut mereka yang mungil. Jawaban itulah yang kiranya akan mewakili jawabanku dan menjadikan kalian menjadi orang yang paham tentang sebab perih, lara dan keterpurukan jiwa.”
****
Tentang Penulis:
Karya : Pemimpin Masa Kini
Nama Pena : Pejuang Sastra
Situs : Media Sastra
Jenis Karya : Cerpen
Jenis Karya : Cerpen