SAAT KEBEBASAN ITU TIBA

Jika angin berhenti bertiup, laut tidur dan senja pun menyentuh bumi maka aku akan kembali pulang” 
Kuhentikan sejenak kata-kataku, mencari kesan dalam keremangan pekatnya malam. Entah mengapa kutulis kata-kata ini, bagiku puisi adalah bagian dari jiwaku dan jemariku adalah hiasannya. Aku tahu cintaku padanya—sebut saja namanya Ros—bukan hanya cinta sesaat belaka tapi ia jelmaan peri kecilku yang selalu memberi indahnya arti hidup dalam kesederhanaan. 

Namun hubunganku dengan Ros tak lagi seharum bunga yang menebarkan wangi. Karena kondisiku, aku tak bisa mempertaruhkankan semua perasaan cintaku padanya, walaupun kami saling mencintai. Namun prinsipku, aku tak mau menikahinya dahulu, karena aku merasa penghasilanku yang pas-pasan belum memadai untuk berkeluarga. Aku tidak mau membuat anak orang lain merasakan derita seperti yang kualami. Memang, Ros sudah bekerja. Namun aku tidak berani melamar kepada orang tuanya. Sekalipun pernah calon mertuaku mengatakan bahwa "rijki mah engke ge datang sorangan atuh," namun aku tak begitu yakin. 

Karena keadaan ekonomi keluargaku yang tak berkecukupan, akhirnya hubungan cintaku dengan Ros pun berjalan apa adanya. Namun hati ini telah berjanji, suatu hari nanti aku akan datang melamarnya. 

Setelah kupertimbangkan berulang kali, aku merasa yakin, aku harus pergi untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi sambari mencari penghasilan kecil-kecilan buat makan dan kuliah. “Aku tak ingin putus asa” pikirku. “Berhenti berarti kandas di tengah jalan.” Dan keputusan ini aku sampaikan kepada Ros. Akhirnya ia berjanji menunggu sampai aku kembali. 

Angin malam mulai menusuk menerobos kamar. Jendela kubiarkan terbuka. Aku duduk di depan jendela. Ku usap kaca jendela yang ujungnya sedikit retak, kini mulai berembun. Jari-jariku mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca, juga teratak-terataknya begitu jelas terdengar di atap genting. 

Bagiku, sulit sekali untuk melupakan Ros. Selama itu pula aku tak mampu menarik kembali kenangannya pada pikiranku. Aku tenggelam dalam lamunan, “Pikirkan saja masa depanmu,” batinku mulai memaki, “Jangan jadikan ia beban pikiranmu”. Aku tak pernah bisa menjawabnya, karena tak bisa di lawan. Setiap kali kulewati malam hanya sekedar melihat jauh dan menerawang ke atas langit. Aku menatap rembulan di tengah pekatnya malam, barangkali Ros sedang menatapnya pula. 

Kuhempaskan badanku di atas kasur yang mulai mengeras. Kucoba pejamkan mata ini namun terasa sulit, padahal hari mulai beranjak pagi. 

Dinginnya malam, tetap tanpa bintang. Karena awan makin tebal. Gelap. Kembali kulihat gelap malam dari balik jendela. Perlahan, aku berdiri di sudut kamarku yang hanya empat meter panjangnya di tambah kamar mandi. Tubuhku menahan dingin di balik selimut. Kulihat seberkas cahaya meteor jatuh, terasa indah. Terlintas dalam anganku wajah Ros, saat itu malam yang hanya ditemani sepotong rembulan dan beberapa bintang berkedip-kedip. Kami berdua duduk di tepi pantai. Ros bercerita dan kami saling mengikat janji. 

+++

Terdengar langkah kaki menghampiri pintu kamar. Sementara wangi parfum menembus melewati pintu kamar. Sejenak aku menghela napas panjang dan kuhampiri gagang pintu. Tanganku bergerak ke arah kunci. Trek..., kunci kamarku kubuka. Terasa ada sesuatu yang lain di hatiku. Pintu terbuka sangat lamban kurasakan. 

Hai,” sapanya. 

Masuk,” kataku sambil kulihat wajahnya yang sayu. 

Keganggu nih” tanya Eliza sambil tersenyum. 

Nggak kok...” jawabku. 

Kamu sendirian?” Eliza kembali bertanya beberapa saat setelah melangkah masuk. 

Aku hanya tesenyum. Setapak aku mendekat ke arahnya. “Kamu masih rindu?”, tanyaku dengan sedikit bergurau. 

Kulihat wajah Eliza sedikit kaku. Matanya melirik ke arah poto Ros yang ada di depan meja belajarku. 

Memangnya kamu sendiri ngga keberatan?”. Sesaat aku hanya terdiam. Kemudian dengan menghela napas aku melangkah ke meja belajar. Kutatap foto Ros begitu dalam. Ada kedamaian yang menghiasi wajahnya saat kutatap. 

Selang beberapa menit, kesunyian menyelimuti kamarku. 

Kami bermuka-muka. Setelah itu hanya diawali dengan jarak pandang dan kebisuan satu sama lain. 

Eliza kemudian mulai bercerita. Selepas lulus SMA, dia dijodohkan oleh orang tuanya. Namun, rumah tangganya hancur berantakan. Gara-gara suaminya kepergok selingkuh. Akhirnya Eliza tak pernah lagi tinggal serumah dengan suaminya di Sukabumi. Dia kini tinggal bersama orang tuanya di Bandung. 

Aku terharu mendengarnya. Hampir dua jam lebih aku mendengarkan Eliza bercerita. Namun pikiranku terus pada Ros yang sama sekali belum pernah kudengar khabarnya. Sementara malam semakin menyelimuti kamar. Di luar, hujan gerimis terdengar manis. Tetesan airnya terdengar peralahan menghiasi dinginnya malam. Aku melangkah perlahan menghampiri Eliza yang sedang duduk. Sesekali Eliza menyibakkan rambutnya yang panjang dengan lembut. 

Seandainya Ros ada di sini mungkin aku sangat bahagia”, anganku menerawang. Sementara gerimis terlihat kembali di balik jendela kamarku. Getaran angin terasa menyusup di antara deraian dedaunan yang bergoyang dan terus bersentuhan seolah mengenali hangatnya bumi. 

Meski malam mulai beranjak pagi, namun langit terlihat hitam diselimuti cindai. Kerucuh hujan di luar jendela membiarkan garis-garis pucat menyelimuti perasaanku. Tetesan gerimis hujan di jendela kamarku terdengar bernyanyian, seakan mengusik dinding batinku. 

Eliza menatapku. Seakan tahu kegelisahan yang kurasakan. Perlahan Eliza menggeliat bangun sementara aku sedang menikmati lamunan. “Aku sangat bahagia bila Ros di sampingku malam ini,” jika Eliza bertanya padaku. 

Malam makin beranjak tatkala detik mulai lambat menepi. Hanya rasa penyesalan yang tersisa tatkala aku bangun dan tak menemukan Eliza di sampingku. 

+++ 

Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan Eliza tak datang. Satu dua tiga bulan setelah itu, aku menerima surat darinya. 

Kala langit diselimuti awan dan malam terasa dingin menggigit. Sepertinya saya mendapatkan sepenggal mimpi. Mimpi yang tak pernah berkesudahan. Mimpi yang membuat terjaga dalam kesendirian. Mana mungkin saya tak mengingatnya, ketika butir-butir gerimis hinggap dan menyelimuti hati. Menembus malam dan merajuk rindu.” Di akhir suratnya dia katakan: “Saya bahagia ketika berada di sampingmu.” 

Sejak Eliza mengirimkan surat padaku, kami tetap tidak saling bertemu lagi. Mungkin dia menjaga perasaannya padaku. Perasaan seorang perempuan yang sudah menikah, walaupun tak pernah bersama. Akupun merasa berdosa karena aku sendiri punya janji hati kepada Ros. Meski sebetulnya aku terlalu rindu pada Eliza yang membuatku tenggelam. 

Oh, tidak. Aku tak ingin membuatmu kecewa Ros.” Bisik batinku. Aku tak ingin mengusik impian yang tengah kau genggam. Aku tak ingin lembar-lembar bunga masa depan yang mulai mekar berserakan dan layu. Biarlah gelombang pasang ini kulayari sendiri. 

Sesaat aku duduk termenung. Sementara tanganku masih memegang sepucuk surat. 

Tiba-tiba gelap seketika. Aliran listrik padam. Aku mencari sesuatu yang bisa menerangi kamarku. Kuambil cricket dibalik kantong celana. Nampak cahaya biru menerangi remangnya malam. Aku meraba-raba mencari sebatang lilin. Namun tak kudapat. Akhirnya dengan bantuan cahaya cricket aku bisa melihat jendela kamarku. Perlahan kusibakan tirai dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku tak lepas dari benda tersebut. 

Aku berdiri di depan jendela. Lama aku memandang jauh ke luar. Aku menghela napas panjang. Dan menghempaskannya dengan berat. “Sepertinya aku memang tak akan pernah paham dengan diriku. Sungguh, sebenarnya apa yang aku inginkan?”, Ucapku. 

Kutengadahkan wajahku di balik jendela kamar. Bulan di langit nampak seperti susut patah-patah. Sesaat batinku berkata; “Terus terang, tadinya aku selalu berpikir aku adalah laki-laki yang paling beruntung di dunia ini. Aku lahir dan besar dari keluarga baik-baik. Aku orang yang baik, menurutku. Mungkin itu juga sebabnya Tuhan memilih Ros buatku.” Sementara kini aku mulai tak yakin dengan hal itu. Tapi, ah...masa bodoh yang penting cintaku pada Ros tetap ada. 

Kurasakan udara mulai dingin menyebar. Senyapnya mulai tertangkap dan suara daun berlari di dinding udara kamar. Perlahan sunyinya malam mulai merebak. Sejenak aku terdiam dalam kata-kata. Tinggallah aku dalam menjaga dingin dan senyap. 

Akupun terkejut ketika aku merasakan percakapan dalam batinku. Tinggallah aku bercakap dengannya. 

Masa bodoh dengan dosa.” Sesaat batinku diam. 

Ah…, aku tak peduli.!” Lanjutku. 

“Hei..sejak kapan kau mulai berubah?” 

Aku terperanjat dengan kata-kata terakhir yang kucapkan. Berbarengan dengan itu lampu kamarku menyala. Namun, sesaat kemudian aku melangkah mendekati stop kontak yang ada di pinggir pintu kamar. Perlahan kumatikan kembali. 

Di luar kamar, suara-suara tak terdengar. Tak ada lagi. Hanya detak jarum jam yang menusuk hatiku. Aku kembali menuju jendela kamar. Kucoba mengintip kelam dari balik jendela. Nampak seribu mata menatap kepadaku yang bersembunyi di belakang cahaya rembulan. Seolah kudengar pesannya. 
Kutitipkan cintaku padamu. Kuserahkan cinta sedihku pada rembulan”. Aku tertunduk. Terasa sembilu menyayat hatiku. 
Perlahan kututup pintu jendela. Ragaku berkata: 
“Selamat datang atas belenggu yang sulit terlepas. Membuat jiwa tak bisa bernapas. Akankah datang cucuran mata air yang menyejukkanmu?.” 
+++ 

Perlahan kurebahkan tubuhku di kasur tua berbungkus seprai berwarna biru muda yang kusam. Aku dipanggang kecemasan. Aku khawatir Ros sudah tidak lagi mencintaiku. Anganku menerawang di atas langit-langit kamarku. Aku masih ingat betul dengan apa yang selalu dikatakan Ros kepadaku. “Cinta akan tumbuh tatkala cinta itu tinggal di dalam diri kita. Cinta selalu sabar dan baik, tak pernah cemburu. Cinta tak pernah berbohong ataupun curang. Cinta adalah pengalaman perasaan yang melampaui batas-batas pikiran. Tidak dapat diukur. Cinta seperti angin tak bisa dilihat tapi dapat dirasakan. Cinta adalah sebuah misteri yang tak dapat dibukakan makna-maknanya. Banyak tersembunyi, sebab cinta adalah pengetahuan rasa. Bukan nafsu semata”, Aku tertunduk kaku memikirkan kata-kata Ros. 

Sekarang aku tahu, aku tak lagi merasakan benar perasan cintaku pada Ros. “Aku sudah berkhianat”. “Aku ingkar pada janjiku.” Sejenak aku menghela napas panjang. Kembali anganku bertanya-tanya. 

Apakah cintaku pada Ros mulai memudar?.” Kembali aku mengela napas. Namun kurasakan ada sesuatu yang hebat dalam hatiku. Seperti sayatan pisau. 

Ah. Kenapa mesti kutanyakan!.” Aku mencoba menjawabnya. Tapi sulit kumengerti. 

Aku turun dari ranjang. Dengan sedikit panik kuteguk setengah gelas air putih yang ada di atas meja belajarku. Dalam kepekatan ini aku tak dapat menyejukan rasa dan batinku. Kini hanya kegelisahanlah yang kudapat. “Aku masih sangat mencintaimu Ros.” Kesahku. 

+++

Di suatu pagi yang dingin aku kembali bertanya pada diriku yang kian hari teras hidup dalam hampa. Aku coba pahami tentang sekelumit makna hidupku. Aku termenung dalam lamunan. Kubayangkan masa depanku. Suatu hari nanti aku pergi jauh. Jauh melintasi semua beban yang aku alami selama ini. Tak ada Ros. Tak ada Eliza. Hanya ketenangan yang menemaniku. Sesaat kesunyian menemani ruang anganku. Namun, kembali kesunyian itu terpecah ketika terdengar suara memanggilku. 

Irwan, telepon!”. Dan aku tahu suara itu adalah suara Herman—satu-satunya teman dekatku. Dan hampir empat tahun kami bersahabat—, Memang aku tidak seperti mahasiswa yang lain, aku sering menghabiskan waktuku dengan menyendiri sehingga jumlah kenalanku sangat terbatas. Aku merasa tak seakrab seperti mahasiswa lainnya. 

Kembali terdengar suara Herman memanggiku. 

Wan, mau terima ngga’?” 

Dari siapa?,” sahutku. 

Katanya sih Eliza.” 

Jantungku berdebar, entah kenapa, barangkali Eliza mau menemuiku lagi. 

Aku bergegas mengangkat gagang telepon. 

Wan…bisa ketemu ngga’.” Terdengar suara Eliza berharap. 

“Dimana?” 

“Bagaimana kalo’ di supermarket?” 

“Sekarang aku akan ke sana” 

“Terus, setelah dari sana?” 

“Setelah itu…kemungkinan malam akan tiba.” 

Aku terdiam. Terdengar nada handphone putus. Barangkali tak ada sinyal. 

+++

Akhirnya kami bertemu. “Sudah lama saya menunggu saat-saat seperti ini.” Eliza kelihatan berbunga-bunga. Namun aku hanya diam menatap matanya. Kulihat mata itu tanpa dosa. Sementara bayangan Ros selalu menghampiriku. 

Kujelaskan pada Eliza bagaimana keadaanku yang tak bisa melupakan Ros. 

Eliza, rasanya aku menyesal karena telah merindukanmu.” 

Aku punya janji hati pada Ros.” 

“Namun, apakah kita bersalah saling merindukan?” 

“Apakah itu salah ?”. Eliza mengulangnya kembali. 

Kulihat bayangan kelam melintas di keningnya dan matanya mengerut. Tak dapat kukatakan apakah itu rasa tersinggung atau rasa tak suka, ataukah cemas yang yang membayang pada raut mukanya. Yang pasti ada kecemasan yang memberatkannya.. 

Sore menjelma. Menghantarkan malam mendekati larut yang makin beranjak. 

Aku pun hendak mengucapkan selamat malam padanya, namun aku mulai merasa bahwa tentunya akan sedikit tak berperasaan kalau kutinggalkan Eliza pulang sendiri. 

Perlahan aku menghampirinya. Kupandang wajah Eliza, wajah itu memang mengikat. Dagunya lancip, dan rahangnya bersegi. Matanya bening seperti mata air. Sedangkan bulu matanya hitam dan lentik. Sesekali terlihat lesung pipinya bila tersenyum. 

“Maafkan aku Eliza.” 

“Aku tak bermaksud menyakitimu” 

“Ros sudah lebih dulu ada di hatiku” 

“Aku tak sanggup melupakan Ros” 

“Eliza, ini demi kebaikan kita berdua…” 

“Demi kebaikan kita…” Kata-kataku yang terakhir ini aneh sekali, ada perasaan yang mengganjal di lubuk hatiku. Karena kata-kata itu aku pun tak dapat menikmati tidur. Sehingga kuhabiskan malam begitu saja. Lama sesudah itu, kata-kata ini tinggal bersamaku. “Demi kebaikan kita berdua…” 
+++

Di penghujung bulan aku duduk di meja. Kupandang wajah Ros tepat di mataku. Matahari senja mulai terbenam. Cahaya lembayungnya berpendar-pendar sinari kamarku yang makin temaram. . 

Hampir empat tahun aku tinggal di kota Bandung. Selama itu pula Ros tak pernah berkirim surat padaku. “Mungkinkah Ros berubah sikap?” Gumamku. 

Empat tahun bukanlah masa yang pendek untuk sebuah penantian. Pikirku. Bisa saja selama diriku di sini, Ros sudah berpaling hati pada yang lain. Karena tak tahan menantiku. Atau siapa tahu Ros diam-diam sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Ya, segala kemungkinan bisa saja terjadi. 

Sesaat aku menarik napas. Kuraskaan perih yang menggelayut di sudut perasaanku. Sejenak aku berkaca. Kutatap mataku yang sayu. Serasa sembilu mengiris-ngiris hatiku. Ada perasaan ngeri bila kehilangan Ros. 

Ah, aku memang telah berdosa kepadamu Ros. Aku telah menghianatimu Ros. Aku telah berpaling. Aku tak setia. Aku lelah. Aku telah tenggelam dalam gumpalan kabut hitam dan kubangan lumpur dosa yang melekat.” 

“Tidak!.” 

“Tidak!”. 

Teriakku menggelegar di balik kabut malam melintasi sepanjang langit. 

“Hatiku tetap setia kepadamu Ros” 

“Aku akan pulang dengan cita-citaku”. 

“Kita akan hidup bahagia” 

+++

Siang itu, aku berbaring di ranjang. Kurasakan hangatnya sinar mentari masuk melewati jendela kamar. Aku membayangkan dua wajah yang selalu menghiasiku. Aku menyadari keberadaan Eliza. Tapi hatiku tak sanggup untuk meninggalkan Ros. Aku berkata pada diriku, “aku ingin lepas, aku ingin bebas…, bebas..!”. Mataku nanar. Jantungku berdegup kencang dan darahku mengalir cepat disekujur tubuh. Aku bicara pada batinku. Aku harus hidup untuk diriku sendiri. Tak seorangpun akan mematahkan keinginku dan mencoba kendalikan hidupku. Tak seorang pun berhak mengatur orang lain. Sungguh aku belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Cinta bukan apa-apa dibandingkan dengan kebebasan yang kini aku rasakan. Sekarang, akan kupandang cinta sebagai perasaan yang paling melemahkan. Tidak ada cinta, yang ada hanya kebebasan. 

****

Tentang Penulis:

Karya       : Nurcholis
Nama Pena   : Nurcholis Al-Bantanie
Rumah       : Bandung
Jenis Karya : Cerpen