SAKSI ABADI

Sinar kunang-kunang berpendar
Mengintai ... mencari kawan
Menelusuri lembah gelap nan gulita
Lengang ...

Hanya sesekali nafas belalang terdengar
Sesekali juga setetes air menggema lama
Sunyi ...

Bak pesisir pantai tak berpenghuni
Hanya ada panorama tanpa pengagum jingga
Andai hamparan pasir
Ia bak gurun tanpa warga
Kaktus mengernyitkan dahi
Menahan terik amat berapi
Piawai ... amat piawai

Menutupi kerapuhan di balik ketegaran
Ia kokoh berdiri menatap lamat fatamorgana
Segenggam air yang melebur tak bersisa lagi

Sepertinya alam ikut melukis rasa
Mengiyakan goresan tinta pemiliki jiwa
Membiarkan hempasan angin berandil

Andaikata surya
Ia jatuh di kaki langit
Andai kata dedaunan 
Ia tersapu bersama bedebuan
Sayangnya tak cukup berandai tuk memberi arti

Sejatinya ...
Hanya Tuhan saksi abadi
Alur kisah yang tersembunyi



Tentang Penulis:

Karya       : Alhini Zahratana
Nama Pena   : Meway Asanfak
Jenis Karya : Puisi
Email       : 
Zahraalhini@gmail
.com


PUISI TAK BERJUDUL

Puisi tak Berjudul

Aku selalu melihatmu dalam tiap gerakku.
Ada awan putih tergambar indah dilangit biru..
Aaahh aku seperti melihat senyummu lagi..

keindahanmu yang terbalut biru.

Entah sampai kemenit berapa aku bisa menatap awan itu.
Ketakutan itu sama seperti ketika aku bertemu denganmu..
lalu kita harus berbalik dan kembali dalam kehidupan masing-masing

Sepertinya aku harus menulis untuk tetap menghibur diriku.
Iya..bukankah kita pergi supaya selalu ada ruang rindu diantara kita??
Lalu aku kembali tersenyum dan bergumam..
hmm..."Kamu memang pandai sekali membuatku hidup diantara kembang rindu yang tergores waktu."

'Bie 09.05.2016


Tentang Penulis:

Karya       : Wulanshary 
Nama Pena   : Shary
Jenis Karya : Puisi
Email       : 
Shary_petroasialube@yahoo.com


JEJAK ADAM DAN HAWA



Mungkin aku hanyalah seorang makhluk yang penuh dengan noda 

Mungkin aku hanyalah seorang keturunan Adam dan Hawa 

Yang dikisahkan berbuat dosa sehingga diturunkan dari syurga 

Mungkin dan mungkin 

Kini seakan kelam menyelimuti jalanan 

Seakan semua harapan telah sirna 

dan cita-cita tinggi terkubur 

Terkubur oleh kenikmatan duniawi 

Yang semu 

Karena garis-garis itu tlah terlewati dan terhempas begitu saja 

Semua menjadi gelap..... 


Dan aku semakin tak mengerti dengan semua fragmen hidup ini 

Apakah titik noda itu menjadi sebuah bukti akan kelemahan diri sebagai manusia 

Manusia yang terus menerus tergoda 

Oleh keheningan yang nyata 

Dan semua seakan tinggal 

Wajah sendu penuh derita 

atau bahkan enggan menatap dunia 

Dunia yang telah membelokkan mata 

Sehingga jejak Adam dan Hawa berulang 



Dan apakah tiap orang hanya berhak menyesal? 

Dan apakah tiap orang hanya berhak dihakimi 

Dan apakah masih ada setitik celah untuk memulai kembali? 

Memulai semua yang telah hancur diterpa badai 

Badai yang datang tiba-tiba menghempas benteng-benteng yang kokoh di luar namun rapuh di dalam? 


*****




Tentang Penulis:


Nama Pena   : Efa Farida
Jenis Karya : Puisi


BIOGRAFI 'ABD ALLAH IBN AL-RAWAHA

Nama lengkapnya adalah Abd Allah bin Rawaha bin Tsa’labab al-Anshary al-Khazraji. Panggilannya Abu Muhammad. Paman daripada Nu’man bin Basyir. Wafat pada tahun 8 Hijriah. Ia masuk Islam pada masa Bait al-'Aqabah al-Ula. Dikisahkan bahwa sewaktu Rasulullah SAW sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. 

Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai'at Rasul (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'at al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi'ar Islam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam. Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Nabi itu, adalah Abd Allah bin Rawahah.

BIOGRAFI H.B JASIN

H.B Jassin merupakan tokoh sastra Indonesia kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, pada tanggal 31 juli 1917. H.B Jassin adalah tokoh yang banyak mempunyai andil dalam kemajuan sastra di tanah air kita ini. Pemerhati yang amat berjasa dalam mengembangkan sastra dan tata bahasa Indonesia. 

Masih segar dalam catatan sejarah sastra dan kebudayaan di Indonesia, tentang kurang lebih 30 ribuan koleksi H.B jassin baik itu berupa buku, majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi dari para pengarang yang ada di Indonesia. Yang kini kini tersimpan di pusat dokumentasi sastra H.B jassin, di taman Ismail Marzuki, Jakarta. Membuktikan bahwa H.B Jassin sangat peduli dengan sastra dan menjalaninya dengan ketekunan, sebab butuh ketelitian yang lebih dalam menata koleksi-koleksi sastra yang berhasil di himpun.

Tidak dapat dipungkiri, fakta tentang besarnya pengaruh H.B Jassin kalangan sesama sastrawan, bahkan H.B jassin sampai dijuluki "Paus Sastra Indonesia" oleh almarhum Gajus Siagian. Hal ini terjadi karena pada waktu itu, setiap sastrawan akan benar-benar diterima dikalangan sastrawan Indonesia pada waktu itu, apabila telah mendapat pengakuan dari H.B Jassin. 

Agak berlebihan mungkin, tetapi itulah fakta yang terjadi pada waktu itu. Seperti Chairil Anwar yang dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor angkatan 45. Prof. A. A. Teeuw yang juga seorang ahli sastra Indonesia pun menyempatkan diri untuk memberi sebuah julukan lain bagi H.B jassin yaitu "Wali penjaga sastra Indonesia ".

Semasa hidupnya, H.B Jassin adalah sosok yang sangat peduli dengan sastra dan perkembangannya di Indonesia. Memberikan perhatiannya dari waktu ke waktu dalam mendorong kemajuan sastra dan kebudayaan di indonesia. H.B Jassin juga dikenal oleh banyak kalangan sebagai kritisi sastra terkemuka di Indonesia, dan kesemuanya itu bukanlah asal kritikan yang tanpa memiliki dasar. Hal itu disebabkan H.B Jassin-lah yang memiliki dokumentasi sastra pribadi yang paling lengkap, yang sudah pasti menjadi acuannya, sabagai bahan perbandingan yang sangat relevan.

H.B Jassin merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang bekas Kerani BPM. Kegemarannya dalam membaca telah terlihat ketika memulai pendidikannya di Hollandsislandse School [HIS]. Dari sini pulalah pemilik nama lengkap Hans Bague Jassin ini mulai mengenal hal-hal tentang sastra, terutama mengarang dan puisi. Dan bakatnya itu semakin jelas terlihat setelah tamat MULO, yaitu ketika dia di HBS yang jalaninya di Medan, karena mengikuti ayahnya yang pada waktu itu harus pindah ke BPM di Pangkalan Brandan. Beberapa karyanya telah dimuat di majalah pada waktu itu.

Setelah tamat dari HBS, H.B Jassin bekerja di kantor asisten residen Gorontalo. Walaupun hal itu dilakoni dengan tanpa menerima gaji, namun memberinya banyak kesempatan untuk dapat mempelajari cara membuat dokumentasi secara baik. Kemudian H.B jassin menerima tawaran pekerjaan dari Sutan Takdir Alisjahbana, yang pada waktu itu adalah redaktur majalah Balai Poestaka, 1940. Dan selama bekerja di Balai Pustaka, H.B Jassin menulis juga beberapa cerpen dan sajak.

Kemudian H.B Jassin pindah ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Semasa di balai pustaka ini jugalah, H.B Jassin mulai mengenal banyak sastrawan yang telah lebih dahulu dikenal. Ketika pindah di bidang kritik serta dokumentasi sastra, H.B Jassin banyak belajar tentang bagaimana cara membuat sebuah timbangan buku yang baik, dan hal ini dia perolehnya dari Armin Pane.

Perceraian H.B Jassin dengan Tientje van Buren adalah riwayat dari 3 kali menikah yang dialami H.B Jassin. Isteri kedua dari tokoh yang memiliki 4 orang anak ini adalah Arsiti, yang kemudian meninggal pada tahun 1962 setelah memberinya 2 orang anak. Dan Yuliko Willem adalah isteri terakhir H.B Jassin yang juga memberinya 2 orang. 

H.B jassin meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo [RSCM] Jakarta, pada tanggal 11 maret 2000, dalam usia 83 tahun. Sebagai penghormatan pemerintah republik Indonesia atas jasa-jasa beliau, H.B Jassin dimakamkan di taman makam pahlawan nasional Kalibata, Jakarta.

Sastrawan besar itu telah pergi untuk selamanya, namun jasa dan pengabdiannya dalam membesarkan sastra dan kebudayaan di tanah air, akan selalu ada dalam kenangan sejarah bangsa ini. Sastrawan sekaligus pengritik sastra Indonesia ini, meninggalkan banyak bukti otentik tentang lingkaran sejarah sastra dan kesusastraan di tanah air ini. 

Tak kurang, sebuah pernyataan almarhum mantan presiden Kyai Haji Abdulrahman Wahid atau Gus Dur yang menerangkan "Saya dibesarkan dalam tulisan beliau dalam mimbar indonesia dan pada beberapa buku. Saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tempat kita berutang kepadanya". Gus dur adalah pengagum salah satu tulisan H.B Jassin yang berjudul " Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei", yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1954.

H.B Jassin juga pernah menjadi redaktur di beberapa majalah sastra dan budaya seperti, Horison, Mimbar Indonesia, Pandji Poestaka, Pantja Raja, Zenith, Kisah, Sastra, Buku Kita dan Medan Iilmu Pengetahuan

Gelar kesarjanaannya dari jurusan sastra di fakultas sastra Universitas Indonesia diperolehnya pada tahun 1957. Kemudian doktor sastra modern ini memperoleh doktor Honoris Causa-nya juga di Universitas Indonesia. H.B Jassin juga sempat mendalami ilmu tentang perbandingan sastra di universitas Yale, Amerika Serikat.

H.B Jassin adalah type sastrawan yang lebih banyak menulis, dan sangat berhati - hati ketika berbicara. Kehati-hatiannya ini, membuat dia kadang menolak ketika didaulat untuk berbicara di depan publik pada kegiatan-kegiatan resmi, seperti seminar atau simposium. Tawaran untuk dia agar tampil sebagai pembicara, pasti akan ditampiknya, jika sadar bahwa ujung-ujungnya akan menghasilkan sebuah perdebatan. 

Dia pernah dikecam setelah menandatangani manifestasi kebudayaan [MANIKEBU], dan oleh kelompok LEKRA [Lembaga Kebudayaan Rakyat]. H.B Jassin dianggap sosok yang anti Soekarno. Kemudian dia dipecat sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia dan dari lembaga bahasa. Cerpen karangan H.B Jassin yang berjudul "Panji Kusmin, langit makin mendung ", yang dimuat pada Majalah Sastra, 1971. Bahkan sempat dianggap menghina Tuhan, yang berujung sampai ke persidangan. Di pengadilan, H.B Jassin diminta untuk mengungkapkan siapa tokoh yang bernama Ki Panji Kusmin dalam cerpen itu. Satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun adalah imbalan, karena H.B Jassin menolak untuk mengungkapkan tentang siapa Ki Panji Kusmin.

Selain memiliki dokumen sastra yang sangat lengkap, H.B Jassin termasuk sastrawan yang produktif dalam menghasilkan karya sastra. Dari ketekunannya, terdapat 20 buah karangan pribadi yang masih ditambah dengan 10 karya terjemahan tangannya.

Beberapa Karya H.B Jassin diantaranya seperti : 
  • Tifa Penyair Dan Daerahnya
  • Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang
  • Kesusasteraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Esai [ 1954 - 1967 ]
  • Gema Tanah Air 
Karya - Karya H.B Jassin diantaranya adalah :
  • Angkatan 45 [ Karya H.B Jassin Terbitan Jajasan Dharma, 1951 ]
  • Tifa Penyair Dan Daerahnya [ Karya H.B Jassin Terbitan Jajasan Dharma, 1952 ]
  • Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Esei [ Karya H.B Jassin Terbitan Gunung Agung, Empat Jilid, 1954 - 1967 ]
  • Kesusasteraan Dunia Dalam Terdjemahan Indonesia [ Jajasan Kerjasama Kebudajaan, 1956 ]
  • Heboh Sastera 1968 [ Karya H.B Jassin Terbitan Gunung Agung, 1970 ]
  • Gema Tanah Air [ Karya H.B Jassin, 1948 ]
  • Kesusastraan Indonesia Di Masa Jepang [ Karya H.B Jassin, 1948 ]
  • Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 [ Karya H.B Jassin, 1956 ]
  • Kisah 13 Cerita Pendek [ Karya H.B Jassin, 1955 ]
  • Analisa, Sorotan Atas Cerita Pendek [ Karya H.B Jassin, 1961 ]
  • Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru [ Karya H.B Jassin, 1962 ]
  • Pujangga Baru Prosa Dan Puisi [ Karya H.B Jassin, 1963 ]
  • Angkatan 66 Prosa Dan Puisi [ Karya H.B Jassin, 1968 ]
  • Surat-Surat 1943 - 1983, [ Karya H.B Jassin Terbitan Gramedia, 1984 ] 
Karya- Karya Terjemahan H. B. Jassin :
  • Max Havelaar [ Karya Multatuli, Djambatan 1972 ] - Al Quran Bacaan Mulia [ Djambatan, 1978 ] Dan Bacaan Mulia [ Edisi Perbaikan, Yayasan 23 Januari 1942, 1982 ].
  • Terbang Malam [ Karya A De St Exupery ]
  • Api Islam [ Karya Syed Amir Ali, 1966 ]

BIOGRAFI SUTARDJI COLZOUM BACHRI

Sutardji Calzoum Bachri terkenal sebagai pelopor puisi kontemporer. Beliau dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya sampai tingkat doktoral, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung. 

Sutardji adalah anak kelima dari sebelas saudara dari pasangan Mohammad Bachri (dari Prembun, Kutoarjo, Jawa Tengah) dan May Calzoum (dari Tanbelan, Riau). Dia menikah dengan Mariham Linda (1982) dikaruniai seorang anak perempuan bernama Mila Seraiwangi. Kariernya di bidang kesastraan dirintis sejak mahasiswa yang diawali dengan menulis dalam surat kabar mingguan di Bandung.

Selanjutnya, ia mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah bulanan Horison, dan Budaya Jaya. Di samping itu, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sejak itu, Sutardji Calzoum Bachri diperhitungkan sebagai seorang penyair.

Pada tahun 2000-2002 Sutardji Calzoum Bachri menjadi penjaga ruangan seni “Bentara”, khususnya menangani puisi pada harian Kompas setelah berhenti menjadi redaktur majalah Horison. 

Sutardji Calzoum Bachri selain menulis juga aktif dalam berbagai kegiatan, misalnya mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1974), mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (Oktober 1974—April 1975), bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan Taufiq Ismail.

Ia pernah diundang ke Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak, pernah diundang Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim, untuk membacakan puisinya di Departemen Keuangan Malaysia, mengikuti berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, malaysia, dan Brunei Darussalam, serta pada tahun 1997 Sutardji membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Columbia.

Sutardji dengan “Kredo Puisi”nya menarik perhatian dunia sastra di Indonesia. Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979). Kumpulan puisnya, Amuk, pada tahun 1976/1977 mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kemudian pada tahun 1981 ketiga buku kumpulan pusinya itu digabungkan dengan judul O, Amuk, Kapak yang diterbitkan oleh Sinar Harapan.

Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), IkWil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).

Sutardji selain menulis puisi juga menulis esai dan cerpen. Kumpulan cerpennya yang sudah dipublikasikan adalah Hujan Menulis Ayam (Magelang, Indonesia Tera:2001). Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”. Sutardji juga menulis kajian sastra untuk keperluan seminar. Sekarang sedang dipersiapkan kumpulan esai lengkap dengan judul “Memo Sutardji

Penghargaan yang pernah diraihnya adalah Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1997), Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993), Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

Dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul “O Amuk Kapak” beliau menyatakan: “Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian."

"O Amuk Kapak" merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

BIOGRAFI PUTU WIJAYA

Putu Wijaya merupakan sastrawan serba bisa. Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga menulis skenario film dan sinetron. 

Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya.

Novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai penulis fiksi pun sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya: Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali

BIOGRAFI BUYA HAMKA

Buya Hamka lahir pada tahun 1908 di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, HAMKA sendiri merupakan singkatan dari nama beliau yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka merupakan putra dari Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang juga merupakan ulama di tanah minang.

Diawali bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958.


BIOGRAFI CHAIRIL ANWAR



Chairil Anwar merupakan seorang penyair legendaris indonesia yang dikenal juga sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul "Aku"). Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat, 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.


Biografi Chairil Anwar 

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Dia dibesarkan dalam keluarga yang broken home. Kedua ibu bapaknya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.


Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

"Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta"

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish (1948).

Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahkan sajaknya yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.


Karya Chairil Anwar
  • Deru Campur Debu (1949)
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  • "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  • Derai-derai Cemara (1998)
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

KARYA CHAIRIL ANWAR YANG DITERJEMAHAN KE DALAM BAHASA ASING

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

MASIH BERPIJAK

Semisal kau hakimi sgala putusanku, 
jadikannya lemah berpijar rambahi makna
ataupun hunuskan petuah-petuah pusaka
letupan-letupan itu kan tetap ada
pada paduan bulir ranum yang titiskan buah-buah pada pohonNya

Karena...

Sebagai angin aku tak selayaknya tertawan
Sebab hembus kebebasan senantiasa tiupkan keniscayaan
Sebagai api pun aku tak sepatutnya terpadamkan
Sebab nyalaku adalah penerang jagad kehampaan
Sebagai salju pun aku tak sepantasnya terlelehkan
Sebab dinginku merupakan jalan tuk bekukan penindasan

Tapi mungkinkah sebagai sang waktu aku tertembus pijak langkah
Yang selalu mereka lekatkan atas nama buah manis kebijaksanaan?


*****






Tentang Penulis:

Nama Pena   : Pejuang Sastra
Situs       : Media Sastra
Jenis Karya : Puisi




MAKA DRUPADI PUN....

Panas mentari menjuntai lumuri pagi
Di antara retakan hujan yang enggan berduyun melantai
Tembus patahan tanah yang makin menganga
Sambut kunjungan Drupadi turun ke bumi
Bawa sejuta genggam dusta pada sebentuk rerumputan
Baurkannya pada panjang sungai yang tlah kerontang

Seikat padi terpanen sudah
Jelmakan jadian ikatan jerami kering
Bertabur di atas ribuan ketam sawah
Di bawa lenguhan pedati yang makin ringkih
Selusuri bebatuan runcing menonjol
Dan berakhir di dapur yang makin secuil mengepul

Maka Drupadi pun berucap;
Putih adalah apa yang kau kenakan pada jubah suci penarik pedati
Maka hitamlah jelmaan rimbun pohon yang terpotong pisau perkelahian pencari kursi-kursi di hutan

*****






Tentang Penulis:


Nama Pena   : Pejuang Sastra
Situs       : Media Sastra
Jenis Karya : Puisi


TENTANG SASTRA

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sastra ialah studi kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Pendefinisian sastra tidak mungkin di definisikan secara jelas, tetapi tergantung kebudayaan dan keadaan sosial di lingkungan sekitar. Seperti yang dikemukakan oleh Jakob Sumardjo bahwa batasan pada sastra sulit dibuat karena beberapa hal, yang salah satunya ialah karena sastra adalah seni, bukan ilmu. Dalam seni banyak unsur kemanusiaan, khususnya perasaan sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Akan tetapi, dengan adanya unsur kemanusiaan tersebut, sastra menarik untuk diteliti dan dianalisis. 

Karya sastra atau wujud dari sastra itu sendiri, seringkali tidak mampu dinikmati dan difahami sepenuhnya oleh sebagian pembacanya. Dalam hubungan ini perlu adanya penelaah dan peneliti sastra. Hal tersebut juga didasarkan terbaginya studi sastra menjadi tiga bagian. Yaitu, teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra. Dalam kritik sastra, kita melakukan penilaian dan pengkajian terhadap karya sastra. Penilaian tersebut tidak bisa dilakukan dengan baik tanpa adanya pengetahuan tentang sastra dan karya sastra itu sendiri. Pengetahuan tentang apa itu sastra dan bagaimana suatu tulisan disebut karya sastra dipelajari melalui teori sastra. Sedangkan bagaimana awal lahir dan perkembangan sastra di dunia dapat diketahui melalui sejarah sastra. 

  • Karya Sastra sebagai Objek Penelitian
Pada prinsip dasar kritik sastra ada yang disebut dengan kritik, mengkritik dan kritikus. Kritik merupakan analisis untuk menilai sesuatu karya seni. Karya seni yang dimaksud ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan seni. Pada dasarnya kritik merupakan penilaian. Seseorang yang melakukan kegiatan kritik disebut dengan kritikus, sedangkan kritikus melakukan kegiatan kritik atau disebut juga mengkritik terhadap suatu objek kritikan. Objek seorang kritikus ialah karya seni, yang dalam hal ini dikhususkan pada karya sastra. 

Kritik lahir dari adanya pertanyaan setelah menikmati karya sastra, baik itu datang dari seorang sastrawan ataupun masyarakat biasa sebagai penikmat sastra. Karya sastra merupakan hasil proses kreatif seorang sastrawan. Pada proses kreatif tersebut, tidak semata-mata hanya membutuhkan sebuah keterampilan, akan tetapi aspek pengalaman hidup, intelektual, wawasan keilmuan terutama kesusastraan, juga kejujuran sangat dibutuhkan dalam pembuatan karya sastra. Oleh karena itu, semakin banyak aspek pendukung maka karya yang dihasilkan pun akan semakin bernilai. 

Suatu karya sastra atau objek penelitian sastra akan memiliki nilai apabila ada seseorang yang dapat menilainya, dan hal inilah yang disebut dengan kritik sastra. 

  • Ragam Pengkajian Sastra
Dalam mengkritik sebuah karya sastra, terdapat ragam atau bentuk pengkajiannya. Ragam pengkajian sastra dan hubungannya dengan kritik sastra dapat dibedakan beberapa macam, antara lain sebagai berikut:

>> Kritik Sastra dan Esai

Esai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya. Dalam esei unsur pemikiran lebih menonjol dibandingkan unsur perasaan. Esei lebih banyak menganalisis fakta dengan pemikiran yang logis. Namun, meskipun lebih menonjolkan sisi pemikiran dibandingkan perasaan, bentuk karangan esei tergambarkan adanya sikap pengarang yang akrab terhadap pembaca. Jadi, pada intinya membaca sebuah esei seperti mendengarkan penulisnya berbicara akrab dengan pembaca. 

Pada pembagian genre sastra, esei termasuk genre sastra non imajinatif. Meskipun bagian dari sastra, akan tetapi esei tidak usah selalu berbicara tentang sastra, sebuah esei dapat berbicara tentang apa saja. Sebuah esei dapat membicarakan tentang semut, sebuah candi, pemandangan alam, seorang pribadi, negara, masyarakat, dan sebagainya. 

Sesuai dengan pengertiannya, esai menggambarkan kepribadian pengarang. Pada intinya esai bukanlah suatu pemecahan terhadap suatu masalah, akan tetapi hanya mengemukakan suatu fakta permasalahan. Syarat sebuah esai ialah uraiannya pendek, berbentuk prosa, bersifat subjektif, tetapi harus bersifat menerangkan dan mengajar.

Esai dapat digolongkan menjadi dua, yakni esai formal dan esai non formal atau esai personal. Jenis esai personal inilah yang yang biasanya disebut karya sastra. esai formal ditulis dengan bahasa yang lugas dan dalam aturan-aturan penulisan yang baku, sedang unsur pemikiran analisisnya amat dipentingkan. Pada esai personal, gaya bahasa lebih bebas dan unsur pemikiran serta perasaan lebih leluasa masuk ke dalamnya.

Menurut cara mengupas sesuatu fakta, esai dibagi empat bagian, yaitu:

> Esai Deskripsi
Dalam esai ini hanya terdapat penggambaran sesuatu fakta seperti apa adanya, tanpa ada kecenderungan penulisnya untuk menjelaskan atau menafsirkan fakta. Esai ini bertujuan "memotret" dan "melaporkan" apa yang diketahui oleh penulisnya tanpa usaha komentar terhadapnya.

> Esai Eksposisi
Dalam esai penulis tidak hanya menggambarkan fakta, tetapi juga menjelaskan rangkaian sebab-akibatnya, kegunaannya, cacat celanya dari sudut tertentu, pokoknya dalam esai ini penulis dapat menjelaskan fakta selengkap mungkin.

> Esai Argumentasi
Esai yang bukan hanya menunjukkan suatu fakta, tetapi juga menunjukkan permasalahannya dan kemudian menganalisisnya dan mengambil suatu kesimpulan dari padanya. Esai ini bertujuan memecahkan sesuatu masalah yang berakhir dengan kesimpulan penulisnya.

> Esai Narasi
Esai yang menggambarkan sesuatu fakta dalam bentuk urutan yang kronologis dalam bentuk cerita, misalnya esai tentang pertemuan seorang sastrawan Indonesia selama seminggu dengan seorang sastrawan dunia yang berkunjung ke Indonesia. 

Sebuah esei yang baik adalah esei yang terorganisir secara rapi dan baik sehingga mudah dan enak dibaca, memeberikan kejelasan dan tantangan imajinasi pembacanya.

Antara esai dan kritik memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya terletak adanya suatu penilaian terhadap suatu karya, dan dalam poin ini dikhususkan pada sastra. Tetapi, perbedaan dari keduanya lebih menonjol. Esai hanya mengemukakan suatu persoalan untuk penyelesaiannya diserahkan kepada pembaca, sedangkan kritik merupakan penilaian terhadap sebuah karya sastra melalui suatu proses dengan menggunakan kriteria tertentu, sehingga dapat mengungkapkan kelemahan-kelemahan serta kelebihan-kelebihan dari sebuah karya sastra dengan mengemukakan alasan-alasannya dan mengusulkan perbaikan-perbaikannya.

>> Kritik Sastra dan Sorotan

Sorotan berasal dari kata sorot ditambah akhiran –an. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sorot diartikan sebagai pancaran sinar (cahaya) atau penyelaan urutan kronologis di dalam karya sastra. Sorotan berarti pancaran atau serangan yang diberikan pada suatu benda yang memiliki sumber. Ketika sorotan dikaitkan dengan kritik sastra, hubungannya ialah bahwa jika kita mengkritik suatu karya berarti kita mengeluarkan argumen dan persepsi kita terhadap karya tersebut, dan argumen-argumen yang diberikan merupakan bentuk sorotan dalam kritik sastra terhadap suatu karya sastra. Sorotan juga digunakan oleh sebagian sastrawan sebagai istilah dari kritik sastra

> Kritik Sastra dan Resensi

Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review


Istilah resensi dalam kamus diartikan sebagai pertimbangan atau pembicaraan buku. Pada pengertian-pengertian secara umum, resensi sering dikaitkan dengan objek resensi sebuah buku. Akan tetapi, Daniel Samad mengatakan bahwa bidang garapan resensi cukup luas. Namun, kebanyakan orang hanya mengambil buku sebagai objek resensi. Bidang garapan resensi dibagi tiga, yaitu (a) buku, baik fiksi maupun nonfiksi; (b) pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik atau kaset; (c) pameran seni, baik seni lukis, maupun seni patung.

Merensi pada hakikatnya melakukan penilaian. Menilai berarti mengulas, mempertimbangkan, mengkritik, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan serta kekurangan-kekurangan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, meresensi merupakan satu bentuk pengkajian sastra. Dan dari segi tujuannya, meresensi hampir sama dengan kritik. Akan tetapi, kritik sastra merupakan kegiatan yang menghakimi melalui teori-teori, prinsip-prinsip sastra, tidak hanya sekedar meresensi.

>> Kritik Sastra dan Apresiasi

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti "mengindahkan" atau "menghargai". Dalam konteks yang luas, istilah apresiasi menurut Gove yang dikutip Aminuddin mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Adapun kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation yang berarti pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan dan penilaian serta pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby). Sedangkan menurut Echols berarti penghargaan dan pengertian.

Pengertian lainnya dapat kita lihat Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain sebagai berikut: 

  • Kesadaran terhadap nilai dan budaya.
  • Penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu.
  • Kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.
Dari beberapa pengertian diatas, kita mengetahui bahwa apresiasi berhubungan dengan nilai. Dan nilai itu sendiri ialah harga dari sesuatu. Mengapresiasi sastra berarti menghargai adanya karya sastra itu, memberikan nilai sesuai dengan isi dan kualitas karya sastra tersebut. Penilaian antara seorang yang mengapresiasi karya sastra akan berbeda dengan yang lainnya, karena pada dasarnya memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra bergantung pada kemampuan orang yang mengapresiasi karya tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Atmazaki dalam Analisis Sajak, yaitu:

  • Pertama, apresiasi merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang, baik kegiatan mental atau kegiatan fisik, dalam merespon sesuatu. Seseorang melakukan kontak dengan sesuatu itu sehingga ada efek, ada resepsi, dan ada persepsi terhadap sesuatu itu.
  • Kedua, apresiasi merupakan kegiatan memberikan pertimbangan terhadap objek yang diapresiasi dengan pertimbangan terimplisit unsur penilaian.
  • Ketiga, kegiatan merespon dan menilai itu tidak dapat dilakukan kalau seseorang tidak mempunyai kemampuan apresiasi, betapapun relatifnya. Jadi, hanya orang yang mempunyai apresiasi sastralah yang mampu melakukan apresiasi sastra. Sebagai konsekuensinya, apresiasi seseorang tidak sama dengan apresiasi orang lain karena merespon dan menilai adalah dua kegiatan yang sifatnya sangat pribadi. Lantas dapat dipastikan bahwa ada apresiasi orang yang tinggi ada pula yang rendah, ada yang luas ada yang sempit.
Apresiasi seseorang tidak mungkin langsung tinggi atau luas, melainkan berangsur-angsur dari taraf yang rendah sampai ke taraf yang paling luas.

Hakikat dari apresiasi ialah menilai, sama halnya dengan kritik. Akan tetapi, mengkritik tidak cukup hanya menilai saja karena ada kalanya mengkritik memberikan fakta persoalan tentang objek penelitiannya yang kemudian mencoba pula untuk memberikan solusinya. Apresiasi merupakan hal yang dilakukan seseorang ketika akan mengkritik. Jadi, kritik sastra merupakan bentuk apresiasi seorang kritikus.

>> Kritik Sastra dan Penelitian Sastra

Dalam mengkritik, berarti memberi nilai, menghakimi, menganalisis. Analisis disebut juga dengan penelitian. Pada hakikatnya, arti mengkritik ialah kita mendalami menelaah suatu karya sastra melalui berbagai teori dan prinsip sehingga menghasilkan suatu perspektif terhadap karya sastra.

Penelitian sastra adalah telaah sastra. Penelitian sastra termasuk kritik sastra ilmiah/akademis. Penelitian ilmiah tidak harus dilakukan oleh seorang akademis, misalnya dosen. Tetapi, siapa saja dapat melakukannya asalkan memenuhi persyaratan keilmiahan. 


Hal-hal yang diperlukan dalam pengkajian secara ilmiah adalah mengikuti alur berfikir ilmiah, yaitu: (a) ada yang menarik untuk diteliti (permasalahan), (b) ada tujuan yang ingin dicapai, (c) jelas teori tempat berpijak, dan (d) jelas metode yang diterapkan sesuai dengan jenis penelitian itu. Di samping itu, dua kriteria berpikir secaar nalar adalah logis dan analitis. Penelitian sastra memerlukan satu syarat lagi yaitu kreatif.

Pada intinya, antara kritik sastra dan penelitian sastra sangat berkaitan. Kritik sastra merupakan satu bentuk penelitian terhadap sastra. Dengan menggunakan teori sastra, teori kritik sastra dan metode-metode lainnya, merupakan bagian dari penelitian. Yang tujuan akhirnya ialah membuka suatu rahasia dari sebuah karya sastra.